Selasa, 30 Juli 2013


Konsep Wingchun " Lin Sil Dai Da"

Perhatian : tulisan ini bersifat subyektif dari sudut pandang saya. Tidak mempunyai tujuan memojokan praktisi, perguruan dan aliran lain. Juga tidak bermaksud menjelek jelekan pihak lain apalagi mereka yg sudah jelek.
Mengcopy paste dan share tulisan artikel ini tanpa permisi akan menyebabkan cuaca buruk, perubahan ekstrim iklim, bencana alam dan kerusuhan sosial.

Lin Sil Dai Da atau di terjemahkan secara kasar sebagai Serangan dan Tangkisan secara Simultan, bisa di lakukan dengan beberapa cara. Secara garis besar konsep ini bisa diartikan 3 macam. yaitu :

1. Tekhnik pukulan di lakukan dengan tekhnik tangkisan dalam waktu bersamaan atau simultan. Tekhnik pukulan / serangan adalah tekhnik primer. Sedangkan tekhnik tangkisan adalah sekunder. Tekhnik sekunder berfungsi membantu tekhnik primer. Contoh tekhnik seperti Pak Da, Tan Da, Bong Da, Tan Tek, Lap Da, dll adalah menggambarkan arti konsep diatas.

2. Kuen siu kuen.
Tekhnik pukulan potong. Tekhnik pukulan adalah tekhnik pertahanan atau tangkisan sekaligus. Pukulan lawan di counter dengan pukulan yaitu dengan memotong lintasan serangan lawan dengan pukulan. Ini bisa dilakukan lewat pintu luar, pintu dalam, atas atau bawah. Konsep "Pintu" harus di pahami juga. Tulisan berikut akan membahas konsep Pintu di Internal Wingchun.
Dengan cara ini tekhnik semakin praktis dan lebih direct. Tekhnik sekunder tidak di perlukan lagi. Angle of attact harus di perhitungkan dgn cermat untuk meminimalkan tenaga dan memaksimalkan akibatnya ke lawan.

3. Memotong atau menghentikan serangan lawan dengan mendahului serangan. Cara ini memerlukan kepekaan membaca niat lawan. Pada saat lawan berniat menyerang tapi serangan belum selesai dilakukan sudah kita dahului. Lawan mulai lebih dahulu tapi kita tiba atau selesai lebih dulu. Selain kepekaan, timing, sudut dan percepatan sangat penting dan diperlukan untuk ini. Kita bisa melihat Bruce Lee sering melakukan tekhnik ini. Selain itu juga sering dipakai oleh para Samurai di duel pedangnya.

Ong Wen Ming
1

Tidak ada komentar :

Posting Komentar